Manuasia sebagai makhluq Allah yang paling istimewa, merupakan satu-satunya makhluq yang perbuatannya mampu mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Allah. Firman Allah :
وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُون (المائدة:٥٦)
Artinya :
Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang. (QS. 5 al-Maidah:56)
أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (القيامة:٣٦)
Artinya :
Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja dengan tiada mempunyai pertanggungjawaban? (QS. 75 al-Qiyamah:36)
Selain itu manusia adalah makhluq kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan. Syarat itu menyatakan bahwa manusia sebagai kesatuan jiwa raga dalam hubungan timbal balik baik dengan dunia dan antar sesamanya.
Di samping itu ada unsur lain yang membuat dirinya dapat mengatasi pengaruh dunia sekitarnya serta problema hidupnya, yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Kedua unsur ini sebenarnya juga tampak pada berbagai makhluq lain, tetapi manusia dianugerahi nilai lebih, hingga kualitasnya berada di atas kemampuan makhluq-makhluq yang lain. Manusia juga merupakan makhluq yang berperadaban yang mampu mengukir sejarah generasinya, sehingga mampu menopang keselamatan, keamanan, kesejahteraan dan kualitas hidupnya.
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (التين:٤)
Artinya :
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang amat baik. (QS. 95 al-Tin:4)
Dengan keistimewaan inilah yang menyebabkan manusia dijadikan “khalifah” Allah di muka bumi, dan dipercaya untuk memikul tugas dan amanah dalam menciptakan tata kehidupan yang bermoral di muka bumi. Sebagai konsekuensinya, manusia dituntut untuk berbakti kepada Allah dengan memanfaatkan kesempurnaan dan kelebihan akal fikiran, dan segala kelebihan lain yang telah dianugerahkan kepadanya. Dengan demikian alur kehidupan manusia yang serasi sebagai makhluq, adalah apabila ia dapat mengemban tugas dan tanggung jawabnya dengan tujuan untuk berbakti kepada Sang Pencipta. Firman Allah :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات:٥٦)
Artinya :
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. (QS. 51 al-Dzariyat : 56:)
Dalam kaiatan dengan pertumbuhan fisik manusia, dia dilengkapi dengan potensi berupa kekuatan fisik, fungsi organ tubuh dan pancaindera. Sedangkan dari aspek mental, manusia dilengkapi dengan potensi akal, bakat, fantasi maupun gagasan. Potensi ini dapat menghantarkan manusia memiliki peluang untuk bisa menguasai serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus menempatkannya sebagai makhluq yang berbudaya.
Di sisi lain, manusia juga dilengkapi dengan unsur yang disebut “qalbu”. Dengan qalbunya inilah terbuka kemungkinan manusia untuk menjadi makhluq yang bermoral, merasakan keindahan, kenikmatan beriman dan kehadiran Allah secara spiritual. Sedangkan dengan potensi akalnya, manusia dapat berkreasi dan berinovasi dalam meningkatkan kualitas hidupnya. Perpaduan daya-daya tersebut membentuk potensi, yang menjadikan manusia mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya, serta mampu menghadapi tantangan yang mengancam kehidupannya.
Berdasarkan informasi al-Qur’an, manusia pertama (Adam AS. dan Hawa) diturunkan Allah ke muka bumi, adalah untuk mengemban tugas khalifah-Nya. Tugas ini mencakup dua tugas pokok, yaitu mewujudkan kemakmuran di muka bumi, dan mewujudkan kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.
Firman Allah :
هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا (هود:٦١)
Artinya :
…Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan pemakmurnya...“ (QS.11 Hud:61)
Firman Allah yang lain :
يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (المائدة:١٦)
Dengan kitab itulah Allah memimpin orang-orang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang0orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan se-izin-Nya, da, memimpin mereka ke jalan yang lurus. (QS. 5 al-Maidah:16)
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (الرعد: ٢٩)
Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. (QS. 13 al-Ra’d:29).
Berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an di atas, menunjukkan bahwa dalam mengemban tugas pengabdian kepada Penciptanya, manusia diberi status terhormat sebagai khalifah Allah di muka bumi. Sebagaimana dikisahkan dalam proses penciptaan Adam AS. dalam al-Qur’an :
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ (البقرة:٣٠)
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat : :Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuatkerusakan padanya dan menumpakan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS.2 al-Baqarah:30).
Manusia bukan hanya merupakan salah satu unsur alam ataupun makhluq yang berkesempatan untuk menggunakannya, tetapi juga sekaligus bertugas sebagai khlifah. Tugas yangdibebankan dalamrangka memelihara danmembimbing seluruh makhluq guna mencapai tujuan penciptaannya, yaitu sebagai khalifah Allah. Manusia diberi tugas dan tanggung jawab untuk memelihara nilai-nilai keutamaan dirinya serta keutamaan makhluq ciptaan Allah yang ada di luar dirinya. Namun pada dasarnya pelaksanaan tugas-tugas tersebut tak lepas dari tanggung jawab utamanya, yaitu dalam rangka pengabdian dirinya kepada Allah.
Pernyataan Kitab Suci tersebut dapat dinilai sebagai kerangka acuan bagi pola hidup manusia. Dengan adanya acuan tersebut, maka manusia pada hakikatnya bukanlah makhluk yang bebas nilai. Kehidpannya terikat oleh kewajiban guna mewujudkan nilai-nilai kehidupan yang sarat makna, yaitu tatanan kehidupan yang didasarkan pada nilai-nilai Ilahiyat. Suatu bentuk kehidupan yang terjamin, terarah dan terukur, dengan dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran yang hakiki, serta direalisasi dalam kehidupan nyata di dunia.
Berdasarkan pemikiran yang demikian itu, maka makna pengabdian bagi manusia, adalah berupa upaya untuk merealisasi pesan-pesan “Langit” dalam kehidupan di bumi. Untuk mencapai tuntutan itu, maka manusia harus mampu mengatur tata kehidupan di bumi berdasarkan ketentuan Allah semata (istislam).
1. Manusia dalam pandangan Islam
Kalau filsafat dapat diartikan sebagai pandangan hidup dari seseorang atau masyarakat bangsa, maka filsafat dapat dijadikan sebagai kerangka acuan dalam menentukan pola kehidupan warga suatau masyarakat bangsa tersebut. Dengan demikian filsafat sebagai pandangan hidup menyangkut pula tentang hubungannya dengan manusia. Tepatnya adalah pandangan filsafat tentang mansuia dalam kaitan dengan kepentingan pendidikan. Sebab upaya yang paling efektif untuk mewariskan nilai-nilai yang termuat dalam pandangan hidup dimaksud adalah melalui pendidikan.
Sehubungan dengan hal di atas, maka sbelum membahas bagaimana konsep filsafat pendidikan Islam tentang manusia, terlebih dahulu perlu diketahui pula, bagaimana pandangan Islam tentang manusia itu sendiri. Pandangan ini setidaknya akan membantu pengenalan sosokmanusia yang sebenarnya, dalam konsep filsafat pendidikan Islam. Konsep ini terutama dalam kaitannya dengan satus manusia sebagai subyek dan sekaligus obyek pendidikan itu sendiri.
Ajaran Islam melihatbahwa manusia sebagai makhluq ciptaan Allah SWT. Berdaarkan sudut pandang ini pula, filsafat pendidikan Islam menempatkan status manusia dan segala aspeknya dalam konteks pendidikan. Berangkat dari pemikiran ini, maka pnadangan filsafat pendidikan Islam akan berbeda dengan filsafat pendidikan umum, yang konsepnya berasal dari pemikiran paran ilmuwan (non muslim) yang umumnya menafikan prinsip pandangan tersebut. Dalam pandangan para ilmuwan ini, manusia cenderung ditempatkan pada posisi netral. Sedangkan kajiannya tentang hakikat manusia adalah bagian dari filsafat yang disebut ontology atau metafisika. Problema yang dihadapi filsafat tentang manusia ini, mengacu pada upaya untuk menjawab pertanyaan tentang apakah sesungguhnya hakikat manusia itu? Dari sudut pandangn ontology tersimpul tiga pertanyaan pokok tentang manusia, yaitu : 1) apakah hakikat kejadian manusia, 2) untuk apa manusia diciptakan, dan 3) akan kemana manusia itu sesudah mati?
Paham materialisme, yang memandang hakikat manusia sebagai unsur materi, agaknya sulit untuk mengakui adanya unsur rohaniah dalam diri manusia. Aliran sejalan dengan prinsip ajarannya, menganggap manusia sebagai unsur-unsur materialisme-mekanistis yang kompleksitasnya terdiri atas aspek-aspek fisiologi, neurology, fisika dan biokimia. Semua unsur tersebut bekerja di bawah satu sistem “organisasi” yang berpusat pada central nervous system (sistem syaraf pusat) yakni “mind”. Namun mind di sini lebih mendekati syaraf yang bersifat neurologis dan bukan psikis (M. Noor Syam, 1986:163).
Menurut paham dualisme, manusia sebagai makhluq adalah integritas antara unsur jasmaniah dan rohaniah. Manusia ditempatkan sebagai makhluq yang memiliki peluang untuk dikembangkan pada kedua unsur tersebut. Adapun upaya pengembangannya dihubungkan dengan berbagai teori kependidikan yang berlandaskan kepada filsafat rasionalis. Produk kemampuan optimal pemikiran murni manusia.
Kedua pendapat dari aliran di atas, tetap akan berbeda dengan pandangan ilmuwan muslim yang merumuskan pendapatnya dan dasar ajaran agamanya (Islam). Seperti Al-Ghazali dan Al-Farabi menyatakan, bahwa manusia terdiri atas unsur jasad (badan) dan roh atau jiwa. Dengan jasad manusia dapat bergerak dan merasa, sedang dengan roh manusia dapat berpikir mengetahui dan sebagainya (Ahmad Daudy, 1986:115). Dalam pandangan ini tercermin akan adanya hubungan yang terintegrasi antara kedua unsur jasmani dan rohani tersebut.
Sedangkan menurut Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, manusia memiliki dimensi jasmani, rohani dan roh (Al-Syaibany:1973). Menurut Hasan Langgulung, roh itu bukan unsur rohani, melainkan unsur fitrah ketauhidan pada diri manusia. Tuhan memberi manusia potensi yang sejalan dengan sifat-sifat-Nya dalam kadar yang terbatas (Hasan Langgulung, 1978). Hasan Langgulung menenmpatkan sifat-sifat Ilahiyat sebagai kerangka acuan bagi perilaku manusia sebagai makhluq ciptaan. Bukan dalam konteks sebagai ujud hakikinya.
Dalam pandangan Islam, manusia adalah makhluq ciptaan Allah dengan kedudukan yang melebihimakhluq ciptaan Allah yang lain. Firman Allah :
لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (التين:٤)
Artinya :
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang amat baik” (QS.95 al-Tin:4).
Selain itu manusia juga dilengkapi dengan berbagai potensi yang dapatdikembangkan antara lain berupa fitrah ketauhidan.
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (الحجر:٢٩)
Artinya :
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (QS.15 al-Hijr:29).
Dengan fitrah ini diharapkan manusia dapat hidup sesuai dengan hakikat penciptaannya, yaitu mengabdi kepada Allah selaku Penciptanya. Firman Allah dalam al-Qur’an :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (الذاريات:٥٦)
Artinya :
Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah. (QS. 51 al-Dzariyat : 56)
Mengacu kepada ketentuan ini, maka dalam pandangan Islam manusia pada hakikatnya merupakan makhluq ciptaan yang terikat kepada “blue print” (cetak biru) dalam perjalanan hidupnya, yaitu menjadi pengabdi Allah yang setia.
Sejalan dengan kepentingan itu, maka kepada manusia dianugerahkan oleh Penciptanya berbagai potensi yang dapat dikembangkan melalui bimbingan dan tuntunan yang terarah, teratur, dan berkesinambungan. Hal ini menunjukkan, bahwa manusia adalah makhluq yang berpotensi untuk dididik. Manusia merupakan makhluq yang mampu mengembangkan diri sejalan dengan potensi yang dimilikinya. Dalam pandangan ini, manusia dinilai sebagai makhluq eksploratif, mampu dikembangkan dan sekaligus mampu untuk mengembangkan dirinya sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar